Bagaimana engkau mencintai saudaramu. .?

Dari: Ummu Muhammad Bintu ‘Amr *via facebook*

Bagaimana engkau mencintai saudaramu ?.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“ Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyalla hu ‘anhu)

‘ Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullahu menjelaskan:
“Dalam hadits Anas bin Malik terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seorang mukmin akan senang terhadap segala sesuatu yang menyenangkan saudaranya yang mukmin, dan dia menginginkan untuk saudaranya sebagaimana dia menginginkan untuk dirinya dari berbagai macam kebaikan. Ini semuanya bersumber dari hati yang selamat dari penyakit khianat, iri, dan dengki. Karena penyakit hasad (iri dan dengki) akan mengharuskan pemiliknya untuk membenci orang yang mengungguli dia dalam kebaikan atau menyamainya. Dia ingin menjadi orang yang berbeda dengan orang lain dengan keutamaan-keutamaan yang adapada dirinya. Sedangkan keimanan menuntut perkara yang bertolak belakang dengan perkara tersebut. Yaitu dia ingin saudara-saudara nya yang beriman seluruhnya, sama-sama mendapatkan kebaikan yang Allah telah berikan kepada dirinya.
[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/171]

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Maka seharusnya seorang muslim mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya, dan membenci kejelekan untuk saudaranya sebagaimana dia membenci kejelekan untuk dirinya. Maka apabila dia melihat kekurangan atau kesalahan pada saudaranya yang muslim, niscaya dia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperbaiki.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/172)

Berkata sebagian salaf rahimahumullah: “Orang-orang yang mencintai karena Allah, maka mereka akan memerhatikan segala sesuatu dengan nur (ilmu) dari Allah. Mereka akan bersikap belas kasih terhadap orang-orang yang bermaksiat kepada Allah, namun mereka membenci amalan-amalannya. Mereka belas kasihan terhadap ahlul maksiat itu agar meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut dengan nasihat-nasihat yang mereka lakukan, karena mereka pun belas kasihan terhadap badan-badan ahlul maksiat kalau disentuh api neraka.”
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/172)

Iklan