Tips Sehat Penggunaan Pembalut

Dengan maraknya pemberitaan mengenai pembalut yang mengandung klorin, berikut ini kesimpulan dari beberapa pakar :

💭 Prof Zullies Ikawati, Apt seorang ahli farmakologi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
mengatakan bahwa temuan YLKI cenderung membuat resah karena tidak disertai penjelasan lebih detil. Antara lain dalam bentuk apa klorin ditemukan dalam pembalut yang diuji? Faktanya, klorin ditemukan juga dalam kehidupan sehari-hari seperti pada air berkaporit, juga pada produk pemutih pakaian. Selama ini, tidak pernah ada yang meributkan bahan-bahan yang mengandung klorin tersebut.
Dan keberadaan dioxin yang merupakan hasil samping dari proses bleaching atau pemutihan dengan  menggunakan klorin yang bersifat racun dalam pembalut tidak dijelaskan dalam temuan YLKI.
Sementara di negara maju, penggunaan klorin dalam proses bleaching sudah banyak ditinggalkan. Sebagai gantinya, bleaching dilakukan dengan senyawa lain yakni hidrogen peroksida (H2O2). Klorin ditinggalkan salah satunya karena menghasilkan byproduct senyawa toksik yakni dioksin.

💭 Dra Maura Linda Sitanggang, Apt, PhD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes,
saat berada di rumah dinas Menteri Kesehatan, Jl Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2015) mengatakan bahwa,
“Klorin itu berbahaya jika termakan atau terminum. Jadi klorin itu dilarang digunakan dalam makanan dan minuman,”.
Demikian papar beliau guna meluruskan berita tentang Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No 472/1996 yang melarang penggunaan klorin karena bersifat racun dan iritan, dalam hal ini yang dimaksud adalah dalam pembuatan obat dan makanan.

“Kalau klorin selama tidak tertelan ya tidak berbahaya.
Mungkin yang dimaksud (temuan YLKI) adalah dioxine, karena dioxine mudah menguap dalam suhu panas. Ini yang bisa menyebabkan kulit iritasi,” ungkapnya.

💭 Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek mengatakan bahwa soal iritasi dan gatal-gatal akibat pembalut merupakan kasus individual. Artinya kasus ini hanya terjadi pada beberapa orang dan bukan akibat dari kesalahan suatu produk.

“Jadi masyarakat tenang saja. Pembalut yang sekarang beredar di masyarakat sudah lulus tes dan aman digunakan,”

Demikian klarifikasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa Klorin tidak berbahaya jika ditemukan dalam jumlah sedikit, dan hanya beracun jika termakan atau terminum.

✅ Nah diatas smua itu, yang terpenting bagi kita adalah mengetahui bagaimana agar tetap terjaga kesehatan daerah ‘kewanitaan’, terutama dalam hal
penggunaan pembalut yang baik.
Berikut ini kita simak saran dari beberapa dokter :

💬dr. Gloria Novelita, Sp.KK menyarankan, saat sedang haid, perempuan perlu ganti pembalut lebih sering.

Perempuan perlu mengganti pembalut lebih sering karena aliran darah di vagina lebih banyak. Kebutuhan mengganti pembalut bervariasi pada tiap individu. Secara umum, pembalut perlu diganti setiap tiga sampai enam jam sehari, tergantung dari derasnya aliran darah haid.

Celana dalam juga perlu diganti, terutama ketika ada keputihan. Mengganti celana dalam saat basah karena keputihan lebih baik ketimbang menggunakan pantyliner. “Bila Anda terus mengalami keputihan, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Keputihan yang normal seharusnya bening, tidak berbau, tidak gatal, serta tidak terus-menerus muncul,” ungkap Gloria.

Pakaian dalam harus berbahan katun dan nyaman dipakai. Tidak disarankan untuk memakai pakaian dalam yang ketat. “Pakaian dalam perlu dicuci dengan deterjen yang lembut, hindari penggunaan pewangi pada pakaian dalam, terutama bila anda memiliki kulit yang sensitif,” kata dr. Gloria.

Daerah di sekitar vulva dan vagina memang sangat sensitif dan terdapat banyak kelenjar. Perempuan seharusnya merawat bagian itu sebagaimana ia merawat mata.

Jangan karena letaknya tersembunyi terus dilupakan. Kalau tidak dirawat, bau tak sedap dan beberapa penyakit bisa mampir ke vagina. Ingat, saat sedang haid, perempuan perlu ganti pembalut lebih sering.

💬Menurut dr Frizar Irmansyah SpOG (K) dari Rumah Sakit Pusat Pertamina,

“Kalau wanita malas ganti pembalut nanti bisa jadi sumber penyakit. Karena media yang paling disenangi oleh bakteri, virus, dan kuman itu kan darah. Jadi kalau didiamkan saja nanti bisa jadi sarang bertumbuhnya bakteri dan virus,”

dr Frizar Irmansyah SpOG (K) menambahkan frekuensi penggantian pembalut tergantung pada jumlah darah yang keluar. Kalau yang keluar sedang banyak-banyaknya ya sebaiknya sering ganti pembalut. Minimal pembalut diganti 2 kali dalam sehari.

💬Sedangkan dr Irfan Mulyana Mustofa, SpOG, dari RSUD Leuwiliang Bogor menyarankan waktu dan seberapa sering penggantian pembalut sebenarnya dipengaruhi subjektivitas wanita pemakainya. Misalnya wanita yang gampang risih dengan darah haid, akan berakibat sering ganti pembalut dikarenakan baru tertampung darah haid sedikit saja yang bersangkutan sudah tidak betah dan akhirnya ganti pembalut lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan apabila si wanita yang sedang haid malas mengganti pembalut, maka darah haid tersebut akan bocor atau meluber. Sedangkan reaksi kesehatan yang timbul yaitu reaksi radang/inflamasi pada kulit daerah kemaluan wanitanya. Reaksi radang ini biasanya ditandai dengan kulit menjadi gatal, merah, basah, perih, berbau tidak enak, dan berair.

Oleh karena itu mengganti pembalut harus di waktu yang tepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu selama masa menstruasi disarankan bagi setiap wanita untuk membawa pembalut tambahan di tas

💬Menurut dr. Rachmad Poedyo Armanto SpOG, sebenarnya tak ada kategori khusus dalam pemilihan pembalut wanita. Yang penting, pembalut tersebut dapat menyerap darah haid. ”Hal itu terpenuhi ketika pembalut sering diganti,” ujarnya.

Jika dirasa pembalut sudah ”penuh”, bisa segera diganti. Berapa kali sebaiknya mengganti pembalut? Tak ada ketentuan khusus. Sebab, jumlah darah menstruasi yang keluar sangat individual.

Pada masa awal menstruasi, darah haid yang keluar sangat banyak. Jika demikian, seseorang perlu lebih sering mengganti pembalut. ”Dalam sehari, bisa ganti pembalut lebih dari tiga kali,” tutur spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Mitra Keluarga Waru tersebut.

Rachmad mengatakan, tingkat keasaman vagina berkisar pada pH 4,5. Menstruasi justru menghasilkan bahan sekresi yang cenderung bersifat basa. Karena itu, darah haid di pembalut yang tidak segera dibersihkan dapat menjadi media pertumbuhan bakteri ataupun jamur.

Ditambah, saat menstruasi, suasana di daerah kemaluan cenderung lebih lembap. Akibatnya, bakteri dan jamur semakin banyak berkembang biak. ”Sering mengganti pembalut mengurangi lecet pada daerah kemaluan,” terangnya.

Rachmad beranggapan, tak perlu menggunakan pembalut khusus dengan embel-embel tambahan bahan antibakteri, antidioksin, atau herbal. Sebab, darah haid keluar dari dalam liang senggama. Di daerah tersebut, terdapat kuman flora yang mempertahankan keasamaan vagina. ”Antibakteri di pembalut hanya bekerja di daerah kemaluan. Tak sampai masuk ke liang senggama dan vagina. Jadi, menurut saya, ya sia-sia menggunakan pembalut tersebut,” Bila jarang mengganti pembalut, tentu kuman akan berkembang biak.

”Jadi, intinya adalah sering mengganti pembalut,” tegas Rachmad.

🌹Namun smuanya kembali kepada konsumen jika tetap ingin menggunakan pembalut herbal karena masih meyakini kegunaannya maka silakan..
✅ yang terpenting meski pembalut dari herbal ataupun dari kain, tetaplah disarankan untuk sering ganti pembalut.

☝ Sebagai tambahan dalam menjaga kesehatan daerah ‘kewanitaan’, dapat pula menggunakan herbal seperti kunir/kunyit, sirih dan lainnya,
Akan tetapi penggunaannya akan lebih mengena khasiatnya jika
✅diMINUM rutin.

💐 Demikian sedikit info dari kami, semoga bermanfaat.

  والله اعلم بالصواب

📚 diambil dari berbagai sumber

✒ Majmu’ah BIKUM🍯

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s