ADAB BERDOA (bag.1)

Oleh : Al-Ustadz Idral Harits hafizhahullah

✔Islam mengajarkan etika yang sangat luhur ketika seseorang berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Apalagi dalam hidupnya yang singkat ini, dia sangat butuh kepada Allah yang telah menciptakannya, yang Mahatahu akan kebutuhan dan keadaan dirinya. Oleh sebab itu, sangatlah pantas baginya memahami bagaimana seharusnya dia bersikap kepada Rabbnya rabbul ‘alamin.

📙Para ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim rahimahumullah, serta selain keduanya telah menguraikan adab-adab berdoa dalam karya-karya mereka.

🔻🔻Berikut ini beberapa adab yang seharusnya kita lakukan dalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 
1⃣. MEMBUKA DOA DENGAN SANJUNGAN ATAU PUJIAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA DAN BERSHALAWAT ATAS NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

👉Inilah salah satu adab yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu ketika, pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang sahabat yang memasuki masjid lalu mengerjakan shalat. Setelah itu, dia langsung berdoa tanpa memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan membaca shalawat atas Nabi shallahu ‘alaihi wassalam.

✏Melihat hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

عَجِلَ هَذَا
“Dia tergesa-gesa (dalam berdoa).”

💬Beliau pun memanggil sahabat tersebut, lalu berkata kepadanya dan kepada sahabat yang lain,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Apabila salah seorang di antara kalian hendak berdoa, mulailah dengan memuji Rabbnya Jalla wa ‘Azza dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat atas Nabi n; sesudah itu, berdoalah dengan sesuatu yang diinginkannya.”[1]

💦🍃Oleh karena itu, orang yang berdoa selayaknya bersikap lemah lembut dan sopan agar permintaannya terkabul.

👉🍃Di antara sikap lemah lembut dan sopan itu ialah menyanjung dan memuji Allah ‘azza wa jalla, serta bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berdoa.

📘📗Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, ada 3⃣ tempat bershalawat atas Nabi ketika berdoa, yaitu:

📢1⃣Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berdoa, sesudah memuji Allah subhanahu wa ta’ala.

👉Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam hadits Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu di atas, dan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan,

كُنْتُ أُصَلِّي، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ مَعَهُ، فَلَمَّا جَلَسْتُ، بَدَأْتُ بِالثَّنَاءِ عَلَى اللهِ، ثُمَّ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُم دَعَوْتُ لِنَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَلْ تُعْطَهْ، سَلْ تُعْطَهْ

“Saya pernah shalat ketika Nabi  sedang bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Setelah duduk, saya mulai memuji Allah dan bershalawat atas Nabi , kemudian berdoa untuk diri saya. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah, pasti engkau diberi. Mintalah, pasti engkau diberi’.”[2]

📢2⃣Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal, di tengah, dan di akhir doa.

📢3⃣Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal dan di akhir doa, serta menyebut apa yang diminta di antara keduanya.

👉Tempat yang kedua dan ketiga ini disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu,

اجْعَلُونِي فِي أَوَّلِ الدُّعَاءِ وَفِي وَسْطِ الدُّعَاءِ وَفِي آخِرِ الدُّعَاءِ

“Jadikanlah aku di awal, di tengah, dan di akhir doa.”

💧Akan tetapi, hadits di atas dinyatakan lemah oleh al-Imam al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’ az-Zawaid (10/155) dan oleh al-‘Uqaili v dalam adh-Dhu’afa (1/61)[3].

🔁🔄Hubungan doa dengan sanjungan, pujian, dan shalawat dijelaskan oleh hadits-hadits lainnya, seperti:

– Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

مَا مِن دُعَاءٍ إِلاَّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidak ada satu pun doa melainkan ada hijab (penghalang) antara dia dan Allah, sampai diucapkan shalawat atas Nabi .”[4]

– Hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,

الدُّعَاءُ مَوْقُوفٌ بَينَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، لاَ يَصْعَدُ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Doa itu tertahan di antara langit dan bumi, tidak dapat naik hingga engkau membaca shalawat atas Nabimu shallallahu alaihi wasallam ”[5]

ket:

[1] HR. at-Tirmidzi (no. 3477) dan Abu Dawud (no. 1483) dari Fadhalah bin ‘Ubaid, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

[2] HR. at-Tirmidzi (no. 593).

[3] Lihat juga tahqiq Jala’ul Afham hlm. 245.

[4] HR. ad-Dailami (4/74 no. 6148) dengan sanad yang lemah. Di dalamnya ada al-Harits al-A’war, dia lemah dan dinilai dusta oleh asy-Sya’bi. Selain itu, di dalamnya ada ‘an’anah (riwayat dengan ‘an) Abu Ishaq as-Sabi’i, beliau seorang mudallis. Hadits ini penguatnya adalah hadits ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

[5] HR. at-Tirmidzi (no. 486), mauquf pada ‘Umar, dan dinilai hasan oleh asy-Syaikh al-Albani (lihat ash-Shahihah no. 2035). Hadits ini menguatkan hadits ‘Ali sebelumnya. Wallahu a’lam.

bersambung in sya Allaah….

🔘sumber: http://qonitah.com/adab-berdoa/

🌹Syarhus Sunnah Lin Nisaa`

〰🌿🌻〰🌿🌻〰🌿🌻〰🌿🌻〰

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s