RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH ( Edisi 18 )

Saya mempunyai seorang kenalan di kota X. Sore kemarin, iseng-iseng saya melihat gambar profil di akun media sosial yang dia miliki. Sayapun terkesima sekaligus takjub dibuatnya. Setelah saya perhatikan dengan seksama ternyata gambar profilnya adalah surat pengunduran diri dari sebuah perusahaan tempat dia bekerja selama ini. Surat tersebut ditanda-tangani oleh bagian Personalia.

“……… adalah karyawan pada perusahaan kami, yang bekerja sejak tanggal ………….. dan atas permintaannya sendiri yang bersangkutan mengundurkan diri terhitung mulai tanggal ………….. Selama menjadi karyawan, yang bersangkutan telah menunaikan tugas dan kewajibannya dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Atas jasa-jasa dan hasil kerja yang baik, perusahaan mengucapkan terima kasih”.

Sebentar kemudian sayapun mencoba untuk menghubunginya.

🅰 “Bekher, saudaraku? Terus kegiatan sekarang?”

🅱”Ana sekarang dagang Ustadz. Kuliner di daerah xxxxx. Ana asli dari kota xxxxx. Alhamdulillah sekarang Ana bisa fokus ta’lim tanpa beban.”

🅰”Alhamdulillah.”

🅱”Ana sering dengar kajian Ustadz. Yang tentang pekerja pabrik, yang sulit sekali mendapat kebebasan. Ana selalu dengar itu, Ustadz. Mungkin ada nasehat buat Ana, Ustadz?”

🅰”Walaupun kecil dan sederhana, alangkah bahagianya hati karena kita adalah pemimpin yang berhak mengatur waktu. Untuk apa jabatan atau pangkat -walau setinggi awan- , sementara kita tetap sebagai bawahan yang harus tunduk dan siap diperintah. Hidup bahagia sebagai entrepenuer!!!
Benar, saudaraku. Kebahagiaan hidup akan saudara raih saat sepenuh kesempatan untuk bersenang-bahagia bersama anak dan istri. Sibuk kerja akan menghalangi kita dari itu.”

🅱”Selama Ana kerja, Ana tidak pernah bisa ikut kajian. Alhamdulillah setelah keluar Ana leluasa ikut tanpa beban, seakan, melihat dunia itu ternyata luas.
Perjuangan Ana keluar penuh pengorbanan, Ustadz. Karena Ana keluar dari perusahan tanpa memberi tahu keluarga satupun. Setelah keluar pertentangan keras Ana dapatkan. Ana dikatakan gila, goblok oleh tetangga dan orang sekitar.”

🅰”Kebahagiaan hidup pun pasti digapai saat hati sebelum kembali gersang telah disirami kembali dengan ayat qurani dan hadits nabawi. Dan itu hanya dengan berpegang prinsip, “Tiada hari tanpa thalabul ilmi!”

🅱”Ana sampai menangis ketika mendengar kisah yang Ustadz cerita seorang yang berpangkat manajer keluar dan berjualan pentol itu,,, ada juga yang tentang kesibukan para pekerja pekerja pabrik yang kerja dari pagi sampai sore dan begitu seterusnya.”

🅰”He…he… Sabar saja dan pandanglah mereka dengan penuh sayang dan kasih. Mereka demikian sebab belum merasakan betapa nikmatnya hidup ini dengan thalabul ilmi. Andai mereka tahu? Tentu mereka berlomba untuk menjadi seperti kita. Andai mereka tahu, pasti kenikmatan yang sudah kita rasakan akan direbut-rebutnya oleh mereka. Jangan benci kepada mereka! Usah mendendam, sebab mereka benar-benar tidak mengetahui.”

🅱”Umur Ana sekarang umur 24, Ustadz. Putri Ana 20 bulan. Ana nggak mau kehilangan moment kebersamaan dengan putri Ana, karena selama ini Ana hanya disibukkan dengan kerja, bahkan pas putri Ana lahir, Ana nggak ada di sampingnya, karena lahirnya di luar pulau. Ana waktu itu dalam posisi kerja.”

🅰”Masya Allah! Coba bayangkan jika itu berlangsung sekian tahun, sekian belas tahun, bukankah kita akan kehilangan sebuah keindahan hidup. Keindahan canda tawa bersama anak-anak.
Sekarang posisi di mana?”

🅱”Pas Ustadz mengisi di kota xxxxx kemarin, Ana ingin sekali curhat dengan Ustadz, qodarullah Ustadz ternyata sudah duluan pulang pas mau mengisi di kota berikutnya. Ana sekarang mukim di kota xxxxx Ustadz. Semoga suatu saat kita bisa bertemu.”

🅰”Amin. Insya Allah, saudaraku. Ana hanya bisa turut mendoakan, “Allahumma, curahkanlah ketenangan dan ketentraman untuk saudaraku Abu Fulanah, di dunia maupun di akhirat. Berikanlah ganti yang jauh lebih baik untuknya karena ia telah meninggalkan sekeping dunia demi meraih nikmatnya thalabul ilmi.”

🅱”Amiin. Ana ndak bisa menahan air mata, Ustadz. Untuk menangis. Mereka di luar sana menakut nakuti Ana dengan kemiskinan.”

🅰”Jika sungguh-sungguh takut miskin di dunia, mestinya kita harus lebih takut miskin di akhirat. Kata Nabi, banyak orang takut miskin padahal orang miskin akan lebih mudah proses hisabnya pada hari kiamat nanti. Nabi juga bertutur bahwa orang miskin akan lebih dahulu masuk surga lima ratus tahun sebelum orang kaya. Orang miskin yang bagaimana? Orang miskin yang bertakwa. Padahal, apakah kita benar-benar miskin? Ingat, masih banyak yang lebih miskin dari kita.”

🅱”Ketakutan kehilangan dunia yg berlebih- berlebihan, padahal hidup bukan mereka yang menjalani.
Jazaakallahu khairan Ustadz atas nasehatnya, menambah semangat Ana untuk tegar dengan semua cobaan.”

Percakapan kami sore kemarin akhirnya berujung dengan sebuah salam dan saling doa-mendoakan. Saya kemudian teringat dengan salah seorang saudara kita di Lendah, yaitu Abu Alifan. Setelah tiga belas tahun bekerja di perusahaan Quick, akhirnya per 1 April kemarin resmi di-off-kan. Kenapa? Alasannya sama seperti sahabat saya di atas, untuk mencari ketenangan.

Sahabat saya di atas dan saudara kita Abu Alifan, kini tidak lagi diribetkan oleh jadwal shift bekerja. Tidak lagi terburu-buru, berpacu dengan waktu agar tidak terlambat masuk kerja. Tidak lagi bingung untuk membagi waktu untuk keluarga dan belajar agama. Sebab mereka kini telah berdiri sendiri. Abu Alifan sekarang memilih hidup sebagai petani.

✔ Untuk mereka berdua (teman saya dan Abu Alifan) atau siapa saja yang telah berani mengambil keputusan seperti mereka, terimalah salam hormat saya. Selamat menikmati kebebasan. Kebebasan tanpa batas, kecuali batas-batas syari’at. Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa melimpahkan istiqomah untuk kita semua.

Jujur saja, saya sangat salut atas pilihan Anda! Anda hebat. Berani menjadi diri sendiri.

Saudaramu di jalan Allah
Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah,13 April 2016
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
telegram kajianislamlendah
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
       🍃Turut menyebarkan:
Whatsapp: 🌹syarhus sunnah lin nisaa`
Channel Telegram:
http://bit.ly/syarhussunnahlinnisa
Website:
http://catatanmms.wordpress.com

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

*****

MasyaAllah… MasyaAllah. Menangissss haru membaca ini…
Teringat kawan lama yg suaminya dulu bekerja mapan sbg karyawan di kantoran, tp memilih keluar dan bekerja serabutan agar bisa sholat jama’ah 5 waktu.

Allohumma baariklahum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s