Seputar Aqiqah Anak

USTADZ MENJAWAB

( Soal no 252 )
Bismillah.
Afwan ustadz ana mau tanya seputar aqiqoh juga.
Bagaimana bila anak tidak di aqiqohi di karenakan tidak mampu,apakah makna dari hadits anak tergadai dengan aqiqohnya tersebut.Dan apakah aqiqoh bisa di ganti setelah mampu meski sudah terlewat masa aqiqohnya ?
جزا كم الله خير أ كثيرأ و با ر ك الله فيكم

Dijawab oleh Al Ustadz Muhamad Arsyad ( Muqim di Madinah sedang mengambil Progam LC. fak SYARIAH )

Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم

Aqiqoh hukum-nya Sunnah muakkadah ini pendapat As-Syekh Sholeh Al-Fauzan حفظه الله ورعاه di kitab mulakhs fiqih

Dalilnya Hadits Riwayat Abi daud dan selain-nya Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menaqiqah cucu-nya Hasan dan Husein رضي الله عنهما ،

Dan Semesti-nya di aqiqoh pada hari ke tuju dan boleh setelah hari ke tuju ini pendapat As-Syekh Al Fauzan حفظه الله ورعاه mulakhs fiqih ,
Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih baginya pada hari ketujuhnya.” (HR. Abu Dawud no. 2838 dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1522)

Berkata iman Ahmad رحمه الله تعالى Ma’na tergadaikan yaitu berhak memberi syafat kepada kedua orang tuanya ( pada hari kiamat )

Adapun kalau belum mampu maka boleh hari-hari setelahnya tapi di meninggalkan sunnah , jika orang tuanya tidak mampu maka sianak boleh menaqiqoh dirinya sendiri sampai Allah beri kelapangan reski , Adapun kalau dia tinggalkan aqiqoh untuk anaknya maka dia luput dari keutamaan sebagaimana hadits diatas karena Aqiqoh hak kedua orang tua jika orang tua mampu , jika tidak mampu dan sianak punya kemampuan maka tidak apa-apa bagi anak menaqiqoh diri-nya sendiri sebagaimana yang di fatwakan sebagian ulama ,

Dalilnya :

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi nabi.

Dari al-Haitsam bin Jamil, ia berkata, “Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas telah bercerita kepada kami dari Tsumamah bin Anas, dari Anas.”

Melalui jalan inilah ath-Thahawi rahimahullah meriwayatkan dalam Musykilul Atsar (1/471), ath-Thabarani dalam al- Mu’jam al-Ausath, dan lainnya. Sanad hadits ini dinyatakan hasan (bagus) oleh asy-Syaikh al-Albani dan dinyatakan kuat oleh al-Imam al-Isybilirahimahullah dalam al-Ahkam.

Sebagian salaf berpendapat bahwa hadits ini diamalkan. Di antara mereka adalah Ibnu Sirin rahimahullah. Ia berkata, “Jika aku tahu bahwa aku belum diakikahi, aku akan mengakikahi diriku sendiri.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Jika engkau belum diakikahi, akikahilah dirimu, meskipun engkau sudah menjadi seorang lelaki (dewasa).”

Kedua atsar di atas dinyatakan kuat oleh asy-Syaikh al-Albani (lihat as- Silsilah ash-Shahihah6/502—506).

Pada kitab fiqih muyassar , waktu aqiqoh Disunnah sampai anak baliq (hal:196)

Berdasarkan (sembelihkan padanya pada hari ketuju ) riwayat abu daud , dishohihkan Asy-Syekh Al Bany di sunnah nasa’i .

✏Dipublikasi Oleh

bit.ly/UstadzMenjawab

Dipubliksi Oleh
USTADZ  MENJAWAB

 

Faidah Tambahan dari pertanyaan Ummahat di Grup Ash-Shalihaah

  1. Bismillah.. Brrti seorang anak yang sudah dewasa bisa mengaqiqahi dirinya sendiri apakah itu orang tuanya masih hidup ataupun telah meninggal ya um? Lalu apabila seorang wanita yang sudah menikah apakah boleh aqiqah dengan penghasilan dari suaminya?
  2. Bismillah.  Ana pernah mendengar bahwa boleh mengaqiqahkn anak laki2 dgn 1 kambing apabila orang tuanya tdk mampu dgn 2 kambing,  benarkah pernyataan itu sesuai syariat?

jawaban

Untuk mengakikah anak laki2 dengan 1 kambing ini ada kutipanx bagian dari artikel  👇🏻👇🏻

Apabila seseorang hanya mampu mengakikahi anak laki-lakinya dengan seekor kambing, sebagian ulama mengatakan itu telah sah dan tujuan akikah telah tercapai. Akan tetapi, apabila suatu saat nanti Allah ‘azza wa jalla memberi kecukupan kepadanya, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sehingga menjadi dua kambing. Ini yang utama. (asy-Syarhul Mumti’, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 7/318) (Selengkap di :  http://asysyariah.com/melaksanakan-akikah/)

Oleh karena itu maka pendapat yang kuat dalam permasalahan ini adalah pendapat jumhur ulama, bahwasanya sunnah aqiqah tidaklah terpenuhi kecuali dengan menyembelih 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan 1 ekor kambing untuk bayi perempuan, ini juga pendapat yang dipilih oleh Imam Asy Syaukany – rahimahulloh”.

Jika memang tidak mampu maka boleh baginya menyembelih satu kambing.
Alloh berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” [QS. Ath Thaghabun: 16]

Selengkapnya di :
http://salafy.or.id/blog/2014/06/page/6/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s