SILSILAH RAGAM HUKUM TERKAIT ‘IED

1. HUKUM SHALAT ‘ID
—————————–

Pertanyaan:
“Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha, hukumnya wajib ataukah sunnah? Dan dosa apakah yang akan ditanggung oleh seseorang yang meninggalkannya?

Jawaban:

Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hukumnya FARDHU (wajib) KIFAYAH. Sebagian ulama lainnya berpendapat : hukumnya FARDHU ‘AIN sebagaimana shalat jum’at.

Maka tidaklah sepantasnya bagi seorang muslim untuk meninggalkannya.

Wa billahi at-taufiq, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

{Al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ nomor 9555.}

2. HUKUM SHALAT ‘ID
—————————-

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah :
“Shalat ‘Id FARDHU KIFAYAH menurut pendapat kebanyakan para ‘ulama, boleh ada sebagian orang tertinggal tidak menghadiri shalat ‘Id.

Namun kehadiran dia dan turut serta bersama-sama saudara-saudaranya kaum muslimin dalam shalat ‘Id merupakan SUNNAH MU’AKKADAH tidak boleh ditinggalkan tanpa ada udzur syar’i. 

Sebagian ‘ulama lainnya berpendapat bahwa shalat ‘id hukumnya adalah FARDHU ‘AIN seperti Shalat Jum’at. Maka TIDAK BOLEH seorang pun mukallaf dari kalangan pria merdeka yang mukim untuk meninggalkannya.
Pendapat ini LEBIH TEPAT dan LEBIH DEKAT KEPADA KEBENARAN. 

🔴Disunnahkan bagi kaum wanita untuk menghadirinya juga, namun DENGAN TETAP MEMPERHATIKAN :
👉 HIJAB,
👉 MENUTUP AURAT, dan
👉 TIDAK MENGENAKAN MINYAK WANGI/PARFUM

Ini berdasarkan hadits yang telah pasti/sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam “ash-Shahihain” dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata,

«أمرنا أن نخرج في العيدين العواتق والحيض ليشهدن الخير ودعوة المسلمين وتعتزل الحيض المصلى  »

“Kami diperintah untuk mengajak keluar pada dua hari raya : para gadis dan para wanita haidh. Agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Namun para wanita haidh menjauhi tempat shalat.”
(HR. al-Bukhari 324, Muslim 890)

Pada sebagian lafazh lainnya,

«فقالت إحداهن: يا رسول الله لا تجد إحدانا جلبابا تخرج فيه، فقال صلى الله عليه وسلم: لتلبسها أختها من جلبابها »

“Salah seorang di antara kami ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, ada seorang dari kami tidak memiliki jilbab yang dengannya dia bisa keluar.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) dari jilbab miliknya.”
(HR. Ahmad 20269, Ibnu Majah 1307)

Tidak diragukan, bahwa ini menunjukkan DITEKANKANNYA kaum wanita untuk keluar/berangkat juga guna melaksanakan shalat ‘Id, supaya mereka bisa menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.

(Majmu Fatawa Ibn Baz 13/7-8)

3. HUKUM JUM’AT DAN SHALAT JUM’AT KETIKA BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA (‘ID), dan Masalah BENARKAH WANITA WAJIB SHALAT JUM’AT MESKIPUN DI RUMAHNYA
————————————————————

Tanya :
Bahwa ada seorang yang menyampaikan fatwa-fatwa, bahwa :
Gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur bagi barangsiapa yang telah hadir shalat ‘Id pada hari Jum’at, baik imam maupun makmum.
Kewajiban shalat Jum’at bagi kaum wanita meskipun di rumahnya.
Maka jama’ah meminta agar permasalahan ini diangkat kepada majelis yang mulia ini, agar mereka mendapatkan faidah keterangan yang benar dalam masalah ini.”

📝Jawab :

1. PERTAMA :
Apabila bertepatan Hari Raya ‘Id dengan hari Jum’at maka GUGUR KEWAJIBAN untuk menghadiri Shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah hadir Shalat ‘Id, kecuali bagi imam, maka kewajiban Jum’at tidak gugur darinya. Kecuali apabila tidak ada orang yang hadir shalat Jum’at. 

Di antara yang berpendapat demikian : asy-Sya’bi, an-Nakha’i, al-Auza’i. Ini juga merupakan pendapat shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Zubair, dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. 

Dasar pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Iyyas bin Abi Ramlah asy-Syami :

«شهدت معاوية يسأل زيد بن أرقم: هل شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل »

“Aku menyaksikan Mu’awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah Anda hadir bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam 2 hari raya yang bertepatan dalam satu hari (yakni ‘Id dan hari Jum’at bertepatan dalam satu hari, pen)?.”
Zaid menjawab, “Iya” 
Mu’awiyah bertanya, “Apa yang beliau lakukan?” 
Zaid menjawab, “Beliau shalat ‘Id dan memberikan rukhshah (dispensasi/keringanan) untuk shalat Jum’at (yakni boleh tidak hadir Jum’at, pen), dengan mengatakan, “Barangsiapa yang mau shalat Jum’at silakan shalat.”
(HR. an-Nasa’I 1591, Abu Dawud 1070)

dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

«اجتمع في يومكم هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه عن الجمعة، وإنا مجمعون  »

“Pada hari ini, bertepatan dua hari raya (Hari ‘Id dan Hari Jum’at), barangsiapa yang mau maka Shalat ‘Id itu telah mencukupinya dari Shalat Jum’at. Namun kami tetap melaksanakan Jum’at.”
(HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311)

Barangsiapa yang gugur darinya kewajiban menghadiri Shalat Jum’at, maka dia tetap MELAKSANAKAN SHALAT ZHUHUR.

2. KEDUA :
Shalat Jum’at disyari’atkan untuk kaum pria. KAMI TIDAK MENGETAHUI ADANYA DALIL YANG MENUNJUKKAN DISYARI’ATKAN SHALAT JUM’AT UNTUK KAUM WANITA DI RUMAH MEREKA.

Iya, apabila wanita melaksanakan shalat Jum’at bersama imam (di masjid, pen) maka itu sah, namun tidak wajib baginya.
Ibnu Qudamah mengatakan,

(أما المرأة فلا خلاف في أنها لا جمعة عليها)

“Adapun untuk wanita, tidak ada perbedaan pendapat bahwa TIDAK ADA KEWAJIBAN JUM’AT ATASNYA.”

Ibnu al-Mundzir mengatakan,

(أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم: أن لا جمعة على النساء)

“Telah berijma (sepakat) semua ‘ulama yang aku hafal dari mereka, bahwa TIDAK ADA KEWAJIBAN JUM’AT ATAS KAUM WANITA.” 

Karena memang kaum wanita tidak bisa hadir di tempat yang di situ kaum pria berkumpul. Oleh karena itu, tidak wajib pula atas kaum wanita shalat berjama’ah (di masjid, pen).

(Al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’
Fatwa no : 2140)

Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

*) ket : ada sedikit perubahan pada teks pertanyaan, yakni pertanyaan ketiga sengaja tidak kami sertakan. Jawaban untuk pertanyaan ketiga juga tidak kami sertakan.

4. KEHADIRAN ANAK-ANAK ke MUSHALLA (TEMPAT SHALAT) ‘IED
————————————————————

Pertanyaan:
“Kebiasaan di negeri kami terkhusus bagi anak-anak, ketika pada hari id mereka datang ke mushala (tempat shalat ‘ied) namun tidak melakukan shalat, hanya duduk-duduk saja di sekitar masjid, mengangkat suara karena gembira pada hari id. Mereka (anak-anak,-pen) mengganggu orang-orang shalat, sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah id, dan terus melakukan perbuatan seperti ini hingga orang-orang keluar (dari mushalla) dan kembali (ke rumah-rumah mereka,-pen). Aku telah berusaha mengingatkan mereka akan tetapi tidak bermanfaat. Aku berharap dari Anda jawaban terhadap kebiasaan ini, yang terus terulang pada anak-anak dari generasi ke generasi, disertai dengan penjelasan.

📝Jawab:

“Anak-anak JANGAN DILARANG untuk hadir di mushalla Id terlebih lagi yang berumur tujuh tahun, karena sabda Nabi shallahu alaihi wa sallam,
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada umur tujuh tahun, pukullah mereka (apabila tidak mau mengerjakan shalat,-pen) pada umur sepuluh tahun, dan pisahkan kamar tidur mereka (antara laki-laki dan perempuan,-pen).”

Akan tetapi mereka DINASEHATI dan DIBIMBING untuk melakukan adab-adab Islam, memperhatikan tata cara shalat, hak-hak orang yang shalat, mendengarkan khutbah, dan janganlah (anak-anak) ramai karena dikhawatirkan mengganggu sang khatib dan jama’ah yang mendengarkan khutbahnya. 

Ayah dan wali harus memperhatikan (anak-anak) pada perkara tersebut (yang telah di sebutkan,-pen). Hendaknya mereka mendidik dan mengontrol, dan hendaknya bagi para bapak untuk memberikan kepada anak-anak hukuman yang pantas, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu longgar sehingga membuat keributan dan mengganggu orang-orang shalat. Wallahul musta’an

Wabillahit Taufiq washallallhu ala Nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam

Al-Lajnah Ad-Daimah li al-Buhuts wa al-Ifta’
Fatwa no. (9291)
Ketua : ‘Abdul Aziz bin Baz

5. Hukum Shalat Nafilah Sebelum Shalat ‘Ied di Mushalla (Tanah Lapang untuk pelaksanaan Shalat ‘Ied)
————————————————————

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya beliau pernah keluar pada hari ‘Id dan berkata:
“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya bukanlah termasuk tuntunan Sunnah mengerjakan shalat sebelum imam (sebelum shalat ‘Id berjamaah dilaksanakan)!”
{Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (1561), dan dishahihkan oleh al-Albani di “Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i” (1561)}

6. Tahiyyatul Masjid Apabila Shalat Ied di Masjid
——————————————————–

Fadhilatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya tentang Shalat Tahiyyatul Masjid sebelum shalat ‘Id.

📝Beliau menjawab:

“Shalat ‘Id apabila dikerjakan di masjid maka tetap disyari’atkan bagi yang baru datang untuk mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid, meskipun pada waktu terlarang, karena shalat tersebut termasuk shalat yang memiliki sebab. 

👉🏾Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka jangan duduk hingga mengerjakan shalat dua rakaat terlebih dahulu.” 

Adapun apabila shalat ‘Id dikerjakan di Mushalla (tanah lapang) yang disiapkan untuk shalat ‘Id, maka yang disyariatkan adalah TIDAK ADA SHALAT SEBELUM SHALAT ‘ID.

Karena mushalla tersebut tidak berlaku padanya hukum-hukum masjid dari semua sisi. Di samping juga TIDAK ADA SHALAT SUNNAH sebelum ataupun setelah shalat ‘Id.

📚Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (13/15-16)

Majmu’ah Manhajul Anbiya
sumber: http://www.manhajul-anbiya.net/al-fawaid-as-salafiyyah/silsilah-ragam-hukum-terkait-ied/

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
       🍃Turut menyebarkan:
Whatsapp: 🌹syarhus sunnah lin nisaa`
Channel Telegram:
http://bit.ly/syarhussunnahlinnisa
Website:
http://catatanmms.wordpress.com

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s